Rabu, 19 Agustus 2020

Hikmah Wasiat Sultan Muhammad II Al Fatih

 

Siapa sih yang tak kenal al-Fatih, salah seorang Sultan Khilfah Islamiyyah yang ke-7. Beliau lahir pada tahun 1432-1481 M. Nama asli beliau adalah Mehmet atau Muhammad II, digelari al-Fatih karena presetasinya yang mampu menaklukkan Konstantinopel yang merupakan Kota terbesar dan terindah di dunia saat itu yang telah dibangun pada tahun 330 M oleh Kaisar Byzantium, Constantine I.[1]

 

Pada Bulan Rabiul Awwal tahun 887 H atau bertepatan dengan tahun 1481 M, Muhammad al-Fatih berangkat menuju Asia Kecil. Di kawasan Askadar telah dipersiapkan pasukan dalam jumlah besar. Sebelum keluar dari Istambul menuju Asia Kecil, Sultan diserang penyakit panas. Namun beliau tidak peduli dengan penyakitnya karena kecintaan beliau terhadap jihad di jalan Allah begitu besar, biasanya ketika terjun ke medan pertempuran Sultan akan mendapat kesembuhan, namun ternyata penyakit panasnya semakin tinggi. Ketika sampai di Askadar, Sultan memanggil para dokter. Namun ketentuan Allah telah berlaku, kondisi Sultan semaki parah sehingga puncaknya, Allah mencabut nyawanya di tempat tersebut. Beliau wafat di tengah-tengah pasukan besarnyapada tanggal 4 Rabiul Awwal 886 H atau Mei 1481 M. Saat wafat beliau berusia 52 tahun dan telah berkuasa selama 30 tahun lebih.[2]

 Baca juga  Kerajaan Kedah Tua

Sebelum beliau wafat, beliau meninggalkan beberapa wasiat kepada penggantinya sepeninggalnya khususnya, umumnya untuk kaum muslimin. Diantara wasiat beliau adalah sebagai berikut.

      1.            “ Jadilah engkau seorang yang adil, Shaleh, dan pengasih”

Tatkala Sultan memasuki Kota Konstantinopel sebagai seorang pemenang, beliau berperang dengan tegap berpegang teguh kepada etika perang dalam Islam. Beliau tidak pernah melanggar kehormatan orang lain, tidak membunuh anak-anak, tidak membunuh orang tua dan wanita, tidak merusak tanaman-tanaman yang bisa dimakan, tidak juga menyiksa orang-orang yang  tidak berdaya, tidak mencincang mayat musuh, dan tidak membunuh kecuali kepada orang-orang yang mengangkat senjata dihadapannya.[3]

      2.            “ Rentangkan perlindunganmu terhadap seluruh rakyat tanpa perbedaan “

Sebagai seorang pemimpin sekaligus khalifah Islam, beliau selalu berbuat adil terhadap rakyatnya. Beliau selalu memberikan hak kepada yang berhak menerimanya dan menghukum orang yang berhak menerimanya, sehinggan kedamaian muncul ditengah kepemerintahannya.

Download Film Nabi Isa A.S

      3.            “ Janganlah kamu sekali-kali mengangkat orang-orang yang tidak peduli agama sebagai pembantumu. Jangan pula kamu mengangkat orang-orang yang tidak menjauhi dosa-dosa besar dan larut dalam perbuatan keji “.

Beliau sangat menekankan dalam proses rekrutmen seorang pejabat negara, beliau selalu melihat dari sisi keilmuan dan keagamaannya  sesuai bidangnya dan tidak kalah pentingnya adalah aklak atau perilakunya kepada rakyatnya.

      4.            “ Jangan engkau mengambil harta rakyatmu kecuali sesuai dengan aturan Islam”.

      5.            “ Himpunlah kekuatan orang-orang yang lemah dan fakir, dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak” .



[1] Uruba fi al-Wushtha, Said Asyur, hlm.29

[2] Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Islamiyyah, Ali Muhammad Ash-Shallabi, hlm193.

[3] Al Mas’alah Al-Syarqiyah, Mahmud Tsabit Al-Tsani Al-syadzili, hlm,.104

Sabtu, 23 November 2019

Kerajaan Kedah Tua


Raja                                        : Maharaja Derbar Raja II / Pra Ong Mahawangsa (Sultan Muzaffar Syah)

Ulama yang Mempengaruhi   : Syeikh Abdullah bin Syeikh Ahmad bin Syeikh Jaafar Qaumuri, berasal dari Yaman

Agama Sebelum Islam            : Hindu

Wilayah                                   : Lembah Bujang 

Awal Munculnya Islam           : Abad ke-9 Masehi

Nama Lain                               : Kalah (Panggilan dari Bangsa Arab)

Pusat Perdagangan                   : Kayu manis, Kapur barus, gaharu, cendana, gading, timah, rempah   ratus, emas, rotan dan hasil hutan alam lainnya.


Hubungan antara Kedah Tua dan Dunia Arab dapat dibuktikan dengan adanya matauang syiling zaman Khalifah Al-Mutawalul (847-861) pada tanggal 848 Masehi yang ditemui di Lembah Bujang. Serta terdapat serpihan-serpihan keramik arab, tembikar tanah, batu yang bertuliskan perkataan Ibn Sirdan yang diyakini anak murid Syiekh Abdullah Al Qumairi Al Yamani.
Muhammad Idris, seorang Pakar Geografi Islam yang masyhur sejaman dengan Shalahuddin Al-Ayyubi menukilkan tentang Kedah Tua (Kalah) bahwa Pelabuha Kedah Tua merupakan destinasi terakhir untuk para pedagang Arab.

Selain itu, Kedah Tua juga terkenal dengan tempat pembuatan pedang yang berkualitas dengan disebut As Saif Al Hind. Dalam A’jaaibul Hind, Buzuurg Al Ramhurmuzi telah mencatatkan bahwa seorang nahkoda yang bernama Ismailuyah bin Ibrahim bin Mirdas telah berlayar dari Kalah(Kedah Tua) menuju Oman pada tahun 317 Hijrah bertepatan dengan 929 Masehi.

Maharaja Derbar Raja II atau Pra Ong Mahawangsa telah masuk islam atas dakwah dari seorang ulama yang berasal dari Yaman yang bernama Syeikh Abdullan bin Syeikh Ahmad bin Syeikh Jaafar Qaumiri, dan meruba namanya menjadi Sultan Muzaffar Syah. Islamnya sang Raja diikuti dan diterima oleh semua para pembesar negeri Kedah dan sejak islamnya beliau, para pembesar istana, rakyat Kedah Tua pun masuk islam secara berbondong-bondong.

Artikel Populer

Kerajaan Islam Awal di Tanah Melayu

  Warga Daerah Lingga, Aceh Tengah Dakwah islam yang telah menyebar di Tanah Melayu sejak abad ke-7 masehi ( Abad awal ...